Skip to main content

cinta, aku dan kuharap juga kau

Maafkan bila aku tak suka berkata, belahlah dadaku!
Tidak juga, akan kudaki gunung yang tinggi demi cinta!
cinta adalah resiko maka jangan meminta resiko lagi
Jangan menguji diriku menjadi pesakitan demi cinta, kecuali ada dendam di dadamu
Karena cinta adalah perjuangan bersama
Kita bisa bermimpi
Tapi jangan membawa awan turun atau kita terbang ke bulan!
Karena mereka bukan mimpi lagi
Kita bawa cinta pada sandaran bersama, supaya lelah kita mereda
Mengertilah bahwa beban tak pernah hilang
Mereka selalu datang dalam sosok berbeda
Tapi senyum akan meluluhkannya walau takkan menghilangkannya
Seks juga tidak
Dia tak jarang berwujud leburan nafsu yang sering mengatasnamakan cinta
Membungkus masalah dan menyimpannya

Comments

Destiny said…
It's nice poem, seperti org sedang jatuh cinta aja....

Popular posts from this blog

Tik Tik Tik

Tik tik tik bunyi hujan dua pipit bercanda dingin senandungkan perih tentang cinta yang berpamit Tik tik tik bunyi hujan kibas daun kelapa meluruh menyembah angin barat agar membawa bangau pulang Tik tik tik bunyi hujan nafas itu memberat pada erangan panjang dahaga yang menahun...

terpurukku

gelas diujung mejaku tak mau kuisi lagi setiap kali kuteguk airnya, dia lenyapkan sesah sesaat saja padahal masih ada hati kosong sekolam dan dahaga pohon berbunga merah di tegalan yang merintih di bulan bulan terakhir dan pucuk bunga yang berkomat kamit memohon agar raga tak mengering luruh membunuh putra putranya...

senja 2

Jauhkan aku dari awan-awan itu mereka hanya memberengut dan berlalu yang lain datang dengan senyum kekasihku kemudian menghilang Janganlah datang mendekat kau gelombang karena kau bawa hampa memukul tubuh bumi berabad-abad dan melukainya Cukup sudah kau menggarami wajahku wahai angin meninggalkan amis di rambutku dan kerut kuatir di pojok mata menampik harapan-harapan yang ingin kutitip Selamat tinggal matahari pergilah kau selamanya hapuslah jingga langitmu secepatnya karena dalam gelap ku merasa lebih lega Selasa, 4 April 2006 © 2006, Gustaf Mamangkey