Skip to main content

Kepada hujan sore ini

Tak tahukah dirimu bahwa kau memenjarakan aku yang dingin dan lapar di ruangan yang berisi tigapuluhan komputer dan hanya tiga orang di dalamnya yang memainkan tuts kibord bersahutan dengan dentuman tak keruan dirimu di atas atap yang menggema mengerikan membawa imajiku pada siklon dan banjir yang selalu mengancam kotaku setiap tahun dan menggetirkan warga karena buaya akan bermunculan di sungai dan laut dan bahkan di rumah-rumah bila banjir coklat datang menggunung menggulung?

Kau mereda?

Terima kasih, sore ini kau hanya menyapaku sesaat, tak membiarkan aku menggigil dan beku kuatir seperti tempo hari saat mengingat dahan pohon besar yang membentang di atas atap rumahku yang tak pernah ku tahu kapan dia ambruk tetapi aku yakin bila kau datang terlalu sering membadai maka diapun akan menyerah tunduk pada amukanmu bukan pada doaku.

Aku pergi!

Comments

Popular posts from this blog

air

Menepi cintaku pada kehampaan Sempat terlelap pada pekat kelam terhentak dan meneriak, menyerapah pada langit tak bertuan Kau begitu kuat mengayuh, sayangku menghilang dalam pekat aku bahkan tak kuat lagi  memegang bayangmu kau hilang Tak kuserapahi siapa-siapa lagi demi sesalku ingin kutindih bertumpuk batu melenyapkannya walau ku tahu, air tak kan lenyap seketika kureguk juga dia suatu saat

Kenankan aku Tuhan

Tuhan, kenankan aku untuk mengirup semua kabut Dan menghembuskan ke gersangnya ladang hati Kenankan aku untuk menelan semua laknat dan maki, kan ku hantamkan pada mereka yang tak berhati Kuatkan aku untuk menimbun para serakah, menenggelamkan mereka dalam harta riba nya

hari ini seharusnya jangan bertanya

hari ini tak ada tanya menyapa karena tanya saling bertanya akan tanya yang bertanya-tanya tentang cinta yang katanya ternyenyak pada sepuluh musim yang meranggas hari ini seharusnya tak ada tanya ketika tanya menjawab tanya akan dua cinta yang berdamai hari ini seharusnya jangan bertanya agar tanya tak berluka dan cinta sepuluh musim tetap menyemai