Skip to main content

Kepada hujan sore ini

Tak tahukah dirimu bahwa kau memenjarakan aku yang dingin dan lapar di ruangan yang berisi tigapuluhan komputer dan hanya tiga orang di dalamnya yang memainkan tuts kibord bersahutan dengan dentuman tak keruan dirimu di atas atap yang menggema mengerikan membawa imajiku pada siklon dan banjir yang selalu mengancam kotaku setiap tahun dan menggetirkan warga karena buaya akan bermunculan di sungai dan laut dan bahkan di rumah-rumah bila banjir coklat datang menggunung menggulung?

Kau mereda?

Terima kasih, sore ini kau hanya menyapaku sesaat, tak membiarkan aku menggigil dan beku kuatir seperti tempo hari saat mengingat dahan pohon besar yang membentang di atas atap rumahku yang tak pernah ku tahu kapan dia ambruk tetapi aku yakin bila kau datang terlalu sering membadai maka diapun akan menyerah tunduk pada amukanmu bukan pada doaku.

Aku pergi!

Comments

Popular posts from this blog

Tik Tik Tik

Tik tik tik bunyi hujan dua pipit bercanda dingin senandungkan perih tentang cinta yang berpamit Tik tik tik bunyi hujan kibas daun kelapa meluruh menyembah angin barat agar membawa bangau pulang Tik tik tik bunyi hujan nafas itu memberat pada erangan panjang dahaga yang menahun...

terpurukku

gelas diujung mejaku tak mau kuisi lagi setiap kali kuteguk airnya, dia lenyapkan sesah sesaat saja padahal masih ada hati kosong sekolam dan dahaga pohon berbunga merah di tegalan yang merintih di bulan bulan terakhir dan pucuk bunga yang berkomat kamit memohon agar raga tak mengering luruh membunuh putra putranya...

senja 2

Jauhkan aku dari awan-awan itu mereka hanya memberengut dan berlalu yang lain datang dengan senyum kekasihku kemudian menghilang Janganlah datang mendekat kau gelombang karena kau bawa hampa memukul tubuh bumi berabad-abad dan melukainya Cukup sudah kau menggarami wajahku wahai angin meninggalkan amis di rambutku dan kerut kuatir di pojok mata menampik harapan-harapan yang ingin kutitip Selamat tinggal matahari pergilah kau selamanya hapuslah jingga langitmu secepatnya karena dalam gelap ku merasa lebih lega Selasa, 4 April 2006 © 2006, Gustaf Mamangkey