Skip to main content

Kuingat kau...

Mungkin aku terlalu menuntut
agar kau genggam aku erat ketika kita sebrangi sungai itu
agar kau memeluk aku ketika perahu yang kita tumpangi oleng
agar kau lebih dulu menahan aku ketika aku jatuh mengejar kelomang
dan aku membalasnya dengan kemarahan yang sangat
ketika kau menghalangi aku keluar malam
ketika kau mendoktrinku dengan apa yang kau anggap baik
ketika kau memintaku untuk tetap belajar
walau ku tahu kau tahu, belajar itu membosankan
Kuingat kau papa,
ketika aku menggodamu saat kau mengerang
dan badan dipenuhi selang
tapi mungkin kau malah tersinggung
kulecut kau sebagaimana kau lecut aku

Hari ini semestinya kau bertambah sepuluh tahun lagi
menghias hari-hari mama

kuingat kau, papa

Comments

Popular posts from this blog

air

Menepi cintaku pada kehampaan Sempat terlelap pada pekat kelam terhentak dan meneriak, menyerapah pada langit tak bertuan Kau begitu kuat mengayuh, sayangku menghilang dalam pekat aku bahkan tak kuat lagi  memegang bayangmu kau hilang Tak kuserapahi siapa-siapa lagi demi sesalku ingin kutindih bertumpuk batu melenyapkannya walau ku tahu, air tak kan lenyap seketika kureguk juga dia suatu saat

Kenankan aku Tuhan

Tuhan, kenankan aku untuk mengirup semua kabut Dan menghembuskan ke gersangnya ladang hati Kenankan aku untuk menelan semua laknat dan maki, kan ku hantamkan pada mereka yang tak berhati Kuatkan aku untuk menimbun para serakah, menenggelamkan mereka dalam harta riba nya

hari ini seharusnya jangan bertanya

hari ini tak ada tanya menyapa karena tanya saling bertanya akan tanya yang bertanya-tanya tentang cinta yang katanya ternyenyak pada sepuluh musim yang meranggas hari ini seharusnya tak ada tanya ketika tanya menjawab tanya akan dua cinta yang berdamai hari ini seharusnya jangan bertanya agar tanya tak berluka dan cinta sepuluh musim tetap menyemai