Skip to main content

Jimbaran, mengapa tak kutemukan airmatamu?

@Jimbaran
Senja kemarin, aku mengeja lagi guratanmu di pasir itu
Mencari jejak airmatamu
Tapi yang ada hanya jejak kaki kita yang berhamburan
Mengejar kepiting capit merah besar yang genit menantangmu
Ku cegat sang bapak penjual kerang
Dimana kau simpan kerang totol bentuk hati yang tersisip airmata di celahnya?
Bapak itu diam memindaiku utuh dari ujung jariku
Tanyakan pada penjual jagung bakar, katanya
Mungkin dia terselip diantara jagung
Kupikir tak mungkin, bukankah hanya tawamu ada di sana?
Kucegat lagi ombak yang membasahi sepatumu
Dia pasti menyimpan airmatamu
Tapi dia terkekeh mendebur dan pergi
Tak matahari, tak juga lilin lentera di meja yang kau tumpahkan itu
Jimbaran, mengapa semua saksi abadi tak peduli?

Comments

Popular posts from this blog

Tik Tik Tik

Tik tik tik bunyi hujan dua pipit bercanda dingin senandungkan perih tentang cinta yang berpamit Tik tik tik bunyi hujan kibas daun kelapa meluruh menyembah angin barat agar membawa bangau pulang Tik tik tik bunyi hujan nafas itu memberat pada erangan panjang dahaga yang menahun...

terpurukku

gelas diujung mejaku tak mau kuisi lagi setiap kali kuteguk airnya, dia lenyapkan sesah sesaat saja padahal masih ada hati kosong sekolam dan dahaga pohon berbunga merah di tegalan yang merintih di bulan bulan terakhir dan pucuk bunga yang berkomat kamit memohon agar raga tak mengering luruh membunuh putra putranya...

senja 2

Jauhkan aku dari awan-awan itu mereka hanya memberengut dan berlalu yang lain datang dengan senyum kekasihku kemudian menghilang Janganlah datang mendekat kau gelombang karena kau bawa hampa memukul tubuh bumi berabad-abad dan melukainya Cukup sudah kau menggarami wajahku wahai angin meninggalkan amis di rambutku dan kerut kuatir di pojok mata menampik harapan-harapan yang ingin kutitip Selamat tinggal matahari pergilah kau selamanya hapuslah jingga langitmu secepatnya karena dalam gelap ku merasa lebih lega Selasa, 4 April 2006 © 2006, Gustaf Mamangkey