Skip to main content

Aku mencintaimu, sungguh!

Aku mencintaimu
selembut angin pagi di beranda
ketika berkas sinar matahari satu satu menyapu wajah
dan burung baru saja diam
ketika kopi kental baru terseduh, tersaji di meja
diam tapi memikat

Aku mencintaimu
selembut kabut pagi berkumpul pelan
membelai setiap helai punai
membungkus dahan
dan menyisakan bening kristal embun menggantung

Aku mencintaimu
setenang air hulu
tapi bercicit di setiap kelokan
dan tak pernah menyalahkan batu dan lumpur

Aku mencintaimu
sesungguh hujan, sesungguh matahari
sesungguh malam, sesungguh siang
sesungguh badai

Comments

Popular posts from this blog

air

Menepi cintaku pada kehampaan Sempat terlelap pada pekat kelam terhentak dan meneriak, menyerapah pada langit tak bertuan Kau begitu kuat mengayuh, sayangku menghilang dalam pekat aku bahkan tak kuat lagi  memegang bayangmu kau hilang Tak kuserapahi siapa-siapa lagi demi sesalku ingin kutindih bertumpuk batu melenyapkannya walau ku tahu, air tak kan lenyap seketika kureguk juga dia suatu saat

Kenankan aku Tuhan

Tuhan, kenankan aku untuk mengirup semua kabut Dan menghembuskan ke gersangnya ladang hati Kenankan aku untuk menelan semua laknat dan maki, kan ku hantamkan pada mereka yang tak berhati Kuatkan aku untuk menimbun para serakah, menenggelamkan mereka dalam harta riba nya

hari ini seharusnya jangan bertanya

hari ini tak ada tanya menyapa karena tanya saling bertanya akan tanya yang bertanya-tanya tentang cinta yang katanya ternyenyak pada sepuluh musim yang meranggas hari ini seharusnya tak ada tanya ketika tanya menjawab tanya akan dua cinta yang berdamai hari ini seharusnya jangan bertanya agar tanya tak berluka dan cinta sepuluh musim tetap menyemai