Friday, January 07, 2011

Catatan 2010

Tak banyak yang ingin kuceritakan
kecuali tentang kerikil kerikil di jalan itu
sedikit tapi menggigit
meninggalkan luka berbulan

Sempat ku tertinggal kereta malam
terkaparku memeluk luka
meraung pada yang empunya matahari
tapi kemana dia?

Aku hilang
di antara gemuruh air keruh
hujan tak pernah berhenti
katanya banyak berkat di antara titik airnya?
tetapi kenapa guruh menggulungku?

Pada dua kaki aku berharap
walau ku tahu mereka tak abadi
agar tetap melangkah
tanpa peduli mereka harus maju atau mundur
yang penting jangan pernah terkapar lagi

Thursday, December 30, 2010

Ribuan kali sudah kuikuti putaran jarum jam dindingku
Mata memerah lelah tak juga mampu membelai otak untuk istirahat barang sesaat
Apakah ini persimpangan kita?

Sunday, November 14, 2010

Hari ini
Ada mentari dikelilingi kabut
Ada burung kecil menyanyi sendiri di dahan mangga
Ada jangkrik yang tak mau diam
Ada angin mempermainkan jendela
Ada air yang tak bosan menggedor ember bocor
Ada televisi yang tak hentinya menayangkan iklan
Ada diri yang kecewa

Wednesday, November 10, 2010

Pulang

Mengapa aku harus pulang
bila pulang tak bersapa
dan topeng segala wajah berkeliling
berdansa pada nasi segenggam?

Mengapa aku harus pulang
dan selalu maklum
akan cinta melimpah
tapi semua tergadai?

Wednesday, November 03, 2010

Kuingat kau...

Mungkin aku terlalu menuntut
agar kau genggam aku erat ketika kita sebrangi sungai itu
agar kau memeluk aku ketika perahu yang kita tumpangi oleng
agar kau lebih dulu menahan aku ketika aku jatuh mengejar kelomang
dan aku membalasnya dengan kemarahan yang sangat
ketika kau menghalangi aku keluar malam
ketika kau mendoktrinku dengan apa yang kau anggap baik
ketika kau memintaku untuk tetap belajar
walau ku tahu kau tahu, belajar itu membosankan
Kuingat kau papa,
ketika aku menggodamu saat kau mengerang
dan badan dipenuhi selang
tapi mungkin kau malah tersinggung
kulecut kau sebagaimana kau lecut aku

Hari ini semestinya kau bertambah sepuluh tahun lagi
menghias hari-hari mama

kuingat kau, papa